<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>penganyamkata.com</title>
	<atom:link href="http://penganyamkata.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://penganyamkata.com</link>
	<description></description>
	<lastBuildDate>Sat, 18 Feb 2012 19:34:47 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.0</generator>
<image>
<link>http://penganyamkata.com</link>
<url>http://penganyamkata.com/wp-content/mbp-favicon/pen.png</url>
<title>penganyamkata.com</title>
</image>
		<item>
		<title></title>
		<link>http://penganyamkata.com/2012/02/18/1002/</link>
		<comments>http://penganyamkata.com/2012/02/18/1002/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 18 Feb 2012 00:00:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>penganyamkata</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://penganyamkata.com/?p=1002</guid>
		<description><![CDATA[]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="aligncenter" src="http://penganyamkata.com/wp-content/uploads/2012/02/17.jpg" alt="" width="860" height="541" /></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://penganyamkata.com/2012/02/18/1002/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Gara-gara &#8220;Perjalanan ke Atap Dunia&#8221;</title>
		<link>http://penganyamkata.com/2012/01/31/gara-gara-perjalanan-ke-atap-dunia/</link>
		<comments>http://penganyamkata.com/2012/01/31/gara-gara-perjalanan-ke-atap-dunia/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 31 Jan 2012 19:59:06 +0000</pubDate>
		<dc:creator>penganyamkata</dc:creator>
				<category><![CDATA[Review]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://penganyamkata.com/?p=744</guid>
		<description><![CDATA[Pada 3 Maret 2012 nanti &#8211; insya Allah, buku saya yang berjudul &#8220;Travel Writer&#8221; diterbitkan oleh Kepustakaan Populer Gramedia. Rencananya, kalau lancar, &#8220;Travel Writer&#8221; diluncurkan pada Sabtu, 3 Maret 2012 di Kompas Gramedia Fair (KGF) di Istora Senayan. Di mytravelwriter.com akan saya bocorkan isi buku itu, agar para traveler bisa mendapatkan sari patinya. Tapi, saya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_752" class="wp-caption alignleft" style="width: 138px"><a rel="attachment wp-att-752" href="http://penganyamkata.com/2012/01/31/gara-gara-perjalanan-ke-atap-dunia/gola-gong-travel-writer-02/"><img class="size-full wp-image-752 " title="Gola Gong - Travel Writer 02" src="http://penganyamkata.com/wp-content/uploads/2012/01/Gola-Gong-Travel-Writer-02.jpg" alt="" width="128" height="85" /></a><p class="wp-caption-text">Gol A Gong</p></div>
<p>Pada 3 Maret 2012 nanti &#8211; insya Allah, buku saya yang berjudul &#8220;<em>Travel Writer</em>&#8221; diterbitkan oleh Kepustakaan Populer Gramedia. Rencananya, kalau lancar, &#8220;<em>Travel Writer</em>&#8221; diluncurkan pada Sabtu, 3 Maret 2012 di Kompas Gramedia Fair (KGF) di Istora Senayan. Di <a href="http://mytravelwriter.com/" target="_blank">mytravelwriter.com</a> akan saya bocorkan isi buku itu, agar para traveler bisa mendapatkan sari patinya. Tapi, saya harus menceritakan, kenapa saya tiba-tiba menulis buku &#8220;<em>Travel Writer</em>&#8220;. Bacalah.</p>
<p>Saat itu, di tangan saya ada manuskrip buku &#8220;<em>Perjalanan ke Atap Dunia</em>&#8221; karya Daniel Mahendra, pengarang novel <em>Epitaph </em>(Kakilangit Kencana, 2009). Manuskrip ini akan diterbitkan oleh sebuah penerbit di Bandung, Nuansa Cendekia, tahun 2012 ini.</p>
<p>Daniel menuliskan perjalanannya di Tibet yang dilakoninya pada April 2011. Bagus bukunya. Terutama teknik menulisnya, dengan cara menulis fiksi. Ini bukan catatan perjalanan seperti pada umumnya sebuah brosur: <em>how to get there, where to stay and eat</em>, tapi lebih ke pengalaman pribadi.</p>
<p><span id="more-744"></span>Saya mendapatkan calon buku Daniel itu ketika baru saja pulang dari perjalanan “Gempa Literasi Timur Tengah” di Dubai, Abu Dhabi, dan Ruwais, UAE, 16 – 25 Desember 2011. Ketika membaca calon buku Daniel ini, tiba-tiba saya teringat calon buku saya yang tertunda: Menulis Catatan Perjalanan. Tanpa pikir panjang, saya nyalakan computer dan saya baca lagi dengan cepat. Lalu, saya ubah judulnya menjadi “<em>Travel Writer</em>”.</p>
<p>Di buku yang sangat sederhana ini, saya ingin membagikan pengalaman bagaimana dulu saya melakukan perjalanan sambil menulis. Saya pergi dari rumah menyandang ransel tidak sehari atau dua hari, tapi berbulan-bulan, bahkan setahun hingga dua tahun. Saya menjadi manusia nomaden abad modern; dari terminal ke masjid, dari pos ronda ke losmen murah. Tergantung dana di kocek.</p>
<p>Saya menulis di tempat kursus mengetik, di kantor-kantor pemerintahan seperti balai desa, atau setelah era teknologi informasi ini, dengan lap top di hotel atau di warung internet. Dari honor menulis saya membiayai perjalanan. Tanpa sadar, saya sedang melakoni profesi yang sedang populer sekarang: <em>travel writer</em>.</p>
<p>Selamat membaca. Semoga bisa mengambil pelajaran dari buku “<em>how to</em>” sederhana ini. Tak ada teori yang nge-jlimet. Semua berdasarkan hati.</p>
<p><em>Happy reading</em> dan terima kaih kepada semua yang membantu penulisan buku ini.</p>
<p>_____________________________</p>
<p>* Travel Writer, Pendiri Rumah Dunia.</p>
<p>Tulisan ini dimuat di sini tak lain sekadar usaha pendokmuentasian. Versi asli dari tulisan ini ada di <a href="http://mytravelwriter.com/index.php?option=com_content&amp;view=article&amp;id=75:travel-writer-1-berbagi-pengalaman-perjalanan&amp;catid=34:laptop&amp;Itemid=18" target="_blank">mytravelwriter.com</a> [Januari 2012].</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://penganyamkata.com/2012/01/31/gara-gara-perjalanan-ke-atap-dunia/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Surat yang Tak Kunjung Usai</title>
		<link>http://penganyamkata.com/2012/01/31/surat-yang-tak-kunjung-usai/</link>
		<comments>http://penganyamkata.com/2012/01/31/surat-yang-tak-kunjung-usai/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 31 Jan 2012 19:19:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>penganyamkata</dc:creator>
				<category><![CDATA[Review]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://penganyamkata.com/?p=757</guid>
		<description><![CDATA[Dan, Sudah banyak yang memperingatkan bahwa novel ini adalah memoar kematian, yang menceritakan kenangan-kenangan akan ditinggalkan seseorang yang amat disayangi. Tapi tetap saja terbit rasa ingin tahuku, karena kematian selalu menimpulkan tanya kenapa, dan pengungkapan misteri di baliknya. Bukan satu perkara mudah untuk menggambarkan kisah di balik jatuhnya helikopter dan hilang berbulan-bulan, jika tidak pernah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_758" class="wp-caption alignleft" style="width: 125px"><a rel="attachment wp-att-758" href="http://penganyamkata.com/2012/01/31/surat-yang-tak-kunjung-usai/indri-juwono/"><img class="size-medium wp-image-758 " title="Indri Juwono" src="http://penganyamkata.com/wp-content/uploads/2012/01/Indri-Juwono-254x300.jpg" alt="" width="115" height="135" /></a><p class="wp-caption-text">Indri Juwono</p></div>
<p>Dan,<br />
Sudah banyak yang memperingatkan bahwa novel ini adalah memoar kematian, yang menceritakan kenangan-kenangan akan ditinggalkan seseorang yang amat disayangi. Tapi tetap saja terbit rasa ingin tahuku, karena kematian selalu menimpulkan tanya kenapa, dan pengungkapan misteri di baliknya. Bukan satu perkara mudah untuk menggambarkan kisah di balik jatuhnya helikopter dan hilang berbulan-bulan, jika tidak pernah berada dalam situasi yang mirip. Dan misteri bisa terpecahkan atau tidak terpecahkan. Memoar kehilangan seseorang yang dikasihi dalam kecelakaan helikopter, yang peristiwanya pun dihilangkan oleh yang berkepentingan.</p>
<p>Dan,<br />
Membaca kisah cinta Laras dan Haikal, alih-alih terharu, aku tertawa, melihat karakter Laras yang begitu hidup, bersemangat dan selalu ceria. Haikal, penulis sok cuek dengan gayanya yang cool, sudah pasti diidamkan oleh tipe perempuan seperti Laras, yang bisa menenangkan ambisinya yang meledak-ledak. Pasangan yang sepertinya akan cocok mengisi satu sama lain. Cara berkenalan antar mereka yang biasa saja namun berkesan. Aku seperti berada di sana menyaksikan mereka berkenalan.</p>
<blockquote><p>&#8220;Hei, kamu bahkan belum tahu siapa namaku!&#8221; seruku kesal.<br />
Ia berhenti, menoleh kemudian tersenyum :<br />
&#8220;Laras Sarasvati!&#8221;</p></blockquote>
<p><span id="more-757"></span>Dan,<br />
Aku banyak tergagap-gagap ketika membaca buku ini, menerka-nerka siapa yang sedang bercerita dalam bab ini. Kadang Laras, kadang Haikal, kadang Langi, yang porsinya sedikit. Mungkin banyak karya yang dituliskan lebih dari satu tokoh &#8216;aku&#8217;, dengan beberapa orang penutur kisah, namun aku sering merasa hilang di dalamnya, bingung apakah penceritaan dalam helaan nafas Langi atau catatan Laras yang hidup dalam penggambaran dialog tokoh-tokohnya. Laras hidup bagai cerita dalam lembaran buku harian, atau udara yang melayang menceritakan tentang kisah hidupnya, ambisi dan mimpi-mimpinya. Lalu aku berpikir, apa yang kau lakukan Langi? Apa yang membuatmu harus ada di sana? Cinta Haikal dan kemampuannya menulis membuat ia seharusnya bisa menjadi penutur utama, dengan emosi dalam dirinya yang tergambar lewat kenangan akan diri Laras. Haikallah orang yang tepat untuk menceritakan ini, bukan Langi, yang tidak kenal, tidak memiliki keterkaitan emosi apa pun dengan keduanya, hanya sebagai pembaca catatan Laras. Tindak Haikal yang hanya sebagai pengantar catatan, dan menelepon hanya untuk mengingatkan Langi, menjadikan karakternya datar, tak lebih seperti bayang-bayang, padahal ia adalah tokoh utama di sini, tokoh yang banyak dihidupkan lewat tulisan-tulisan Laras. Mungkin Haikal bukan tipe orang yang bisa curhat berjam-jam pada Langi, dia akan memendam erat-erat kenangannya. Tapi aku yang membaca, merasa seandainya Haikal yang menulis cerita ini, emosi duka yang terjadi akan lebih kuat, seperti mendengarkan cerita dari orangnya langsung, bukan Langi sebagai penutur kedua.</p>
<p>Dan,<br />
Mungkin seperti pembaca lainnya, aku terganggu dengan catatan kaki yang banyak menjelaskan singkatan-singkatan yang sebenarnya sudah umum di masyarakat. Aku juga terganggu dengan sejarah perfilman yang diceritakan amat panjang. Seharusnya bisa dipersingkat.<br />
Pun juga dengan cerpen yang diselipkan di dalam cerita. Apa ini? Layout cerpen ini menghilangkan garis besar kisah yang hendak kau ceritakan. Seandainya cerpen ini diletakkan dalam bab sendiri, atau dicetak dalam garis miring, mungkin akan membuat pembaca sepertiku tidak kehilangan fokusnya. Ya, mungkin cerpen ini menguatkan karakter Haikal yang cenderung tampak kuat dan tangguh di luar, namun di dalam hati punya hal-hal yang dipendam yang tidak dibaginya ke orang lain, namun cukup mengusik pikirannya. Karakter khas pejalan, pendaki gunung. Ya, aku banyak mengenal karakter itu di sekitarku, lelaki yang tenang, melakukan perjalanan tanpa banyak omong, memilah mana yang perlu atau tidak perlu dibahas, dan bisa mencurahkan isi pikirannya yang berkecamuk dalam tulisan. Mungkin karena itu kamu merasa perlu menyisipkan cerpen di dalam cerita ini, tidak hanya sekedar menunjukkan bahwa Haikal adalah seorang penulis.<br />
Tetapi, apabila kamu memutuskan untuk tidak menuliskan cerpen ini, mungkin akan lebih fokus. Karakter Haikal yang pemikir tampak di saat kunjungannya ke rupah bapak tua di tepi pantai itu, ketika di sana ia dipertanyakan kesepian.</p>
<blockquote><p>“Kebahagiaan itu bukan dicari, tapi diciptakan.”<br />
“Kau boleh saja merasa kesepian, namun setelah kau ungkapkan kesepian itu, itu bukan kesepian lagi namanya. Seperti halnya rahasia, jika ia telah lagi diceritakan, ia tak lagi pantas disebut rahasia.”</p></blockquote>
<p>Dan,<br />
Benar, buku ini membangkitkan kenangan akan kematian orang yang amat kita sayang. Ketika sehari-hari bertegur sapa, lalu tiba-tiba tak ada. Apalagi menjadi orang yang terakhir melihatnya dalam keadaan hidup. Rasanya seperti aku terlempar lagi ke lorong waktu 23 tahun yang lalu, ketika kehilangan satu-satunya adik perempuanku. Dan membuat kami meninggalkan kota Bandung dengan duka, dan baru bertahun-tahun kemudian kembali untuk bertinggal lagi. Jembatan dalam sampul bukumu mengingatkanku pada jembatan di Cikutra, yang kulewati setiap aku mengunjungi makamnya.</p>
<p>Dan,<br />
Pegunungan itu, selalu memberikan rasa debar ketika melintas di atasnya. Gerakan naik turun pesawat, dan guncangan-guncangan kecil yang terjadi memberi tanda kita untuk berdoa memohon keselamatan. Membaca lembar-lembar yang mengisahkan pencarian Laras diceritakan dengan rinci dan detail, membuat aku membayangkan lembah tersembunyi yang tidak tersapu oleh tim SAR. Deretan pegunungan yang membentang di sisi barat Sumatera hingga Sumatera Utara, hembusan turbulensi udara yang amat mungkin karena kontur pegunungan dan perbedaan tekanan. Pencarian untuk memberikan penghormatan terakhir dan selayaknya pada mereka.</p>
<p>Dan,<br />
Membaca novel ini, awalnya seperti membaca sebuah monumen kesedihan sebuah kematian, namun lama kelamaan ternyata ini adalah monumen kehidupan, kenangan seorang Laras, seorang gadis yang amat teguh dengan cita-cita, yang tidak pernah beralih sedikitpun. Yang tahu ke mana ia harus melompat, ke mana kakinya harus didaratkan. Menyusun semua langkah yang diambilnya, dengan segala resikonya. Seorang gadis dengan gairahnya yang menggebu-gebu di tengah lesunya perfilman, masih memiliki impian bahwa keadaan akan berubah. Lepas dari stereotipe cita-cita anak kecil. Seseorang yang punya keyakinan akan impiannya. Dan tahu bagaimana mewujudkan mimpinya.</p>
<p>Dan,<br />
Mungkin ceritaku akan lain apabila aku bertemu Haikal terlebih dahulu daripada denganmu. Mungkin akan lebih banyak kukorek tentang sosok melankolis kolerik ini. Atau cerita tentang Laras kekasihnya. Namun waktu mengatakan lain. Aku bertemu denganmu lebih dulu daripada Haikal. Sehingga kita memang tidak bercerita soal laki-laki ini, tetapi tentang hal-hal lain di luar sana. Tapi aku mengaku, Dan. Aku jatuh cinta pada Haikal.</p>
<p>***</p>
<p>setelah merayu setahun penuh, akhirnya aku mendapatkan buku ini dari penulisnya. buat agenda tutup tahun 2011.</p>
<p><em>buat Indri Juwono,<br />
terima kasih untuk persahabatan yang manis!</em></p>
<p><em> </em></p>
<p><em>Daniel Mahendra<br />
Bandung, 24 Desember<br />
Malam Natal 2011 </em></p>
<p>________________</p>
<p>* Arsitek, tinggal di Depok.</p>
<p>Tulisan ini dimuat di sini tak lain sekadar usaha pendokumentasian. Versi asli dari tulisan ini ada di <a href="http://matabukuindri.blogspot.com/2012/01/epitaph.html" target="_blank">matabukuindri</a> [Januari 2012].</p>
<p><strong> </strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://penganyamkata.com/2012/01/31/surat-yang-tak-kunjung-usai/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Dear Mama</title>
		<link>http://penganyamkata.com/2012/01/16/dear-mama-2/</link>
		<comments>http://penganyamkata.com/2012/01/16/dear-mama-2/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 16 Jan 2012 14:41:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>penganyamkata</dc:creator>
				<category><![CDATA[Work]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://penganyamkata.com/?p=778</guid>
		<description><![CDATA[© dearbooksproject.wordpress.com Cetakan 1, Januari 2012 nulisbuku.com 252 hal. DearMama adalah proyek menulis keroyokan yang digagas oleh @lalapurwono dan @MeityIskandar serta di-support oleh nulisbuku, berupa sekumpulan surat yang ditujukan kepada perempuan bernama ibu, yang telah mengandung dan mempertaruhkan hidup dan matinya ketika melahirkan anak-anaknya. Seluruh royalti buku ini akan disumbangkan kepada Yayasan Kesehatan Payudara Jakarta [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a rel="attachment wp-att-785" href="http://penganyamkata.com/2012/01/16/dear-mama-2/dear-mama-10/"><img class="size-medium wp-image-785 alignleft" title="Dear Mama 10" src="http://penganyamkata.com/wp-content/uploads/2012/01/Dear-Mama-10-203x300.jpg" alt="" width="135" height="196" /></a>© dearbooksproject.wordpress.com<br />
Cetakan 1, Januari 2012<br />
nulisbuku.com<br />
252 hal.</p>
<p>DearMama adalah proyek menulis keroyokan yang digagas oleh @lalapurwono dan @MeityIskandar serta di-<em>support </em>oleh <a href="http://www.nulisbuku.com/" target="_blank">nulisbuku</a>, berupa sekumpulan surat yang ditujukan kepada perempuan bernama ibu, yang telah mengandung dan mempertaruhkan hidup dan matinya ketika melahirkan anak-anaknya.</p>
<p><span id="more-778"></span>Seluruh royalti buku ini akan disumbangkan kepada Yayasan Kesehatan Payudara Jakarta (<a href="http://dearbooksproject.wordpress.com/2012/01/17/dearmama-untuk-pita-pink/" target="_blank">YKPJ/Pita Pink</a>), RSK Dharmais, Jalan Letjend S. Parman Kav. 84-86, Jakarta 11420.</p>
<p>Membeli buku ini berarti ikut menyumbang dengan cara yang menyenangkan. Untuk pembelian bisa mengontak <a href="http://www.nulisbuku.com/books/view/dear-mama-10" target="_blank">nulisbuku </a>atau <a href="http://dearbooksproject.wordpress.com/2012/01/11/untuk-pemesanan-buku-dearmama/" target="_blank">dearbookporsject</a>.</p>
<p>Tulisan Daniel Mahendra: Dear Mama #10<br />
&#8220;Rapsodi untuk Mama&#8221;</p>
<p>Bersama Zara Zetira Zr, Lala Purwono, dll.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://penganyamkata.com/2012/01/16/dear-mama-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Nararya #1</title>
		<link>http://penganyamkata.com/2011/12/07/nararya-01/</link>
		<comments>http://penganyamkata.com/2011/12/07/nararya-01/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 07 Dec 2011 06:05:26 +0000</pubDate>
		<dc:creator>penganyamkata</dc:creator>
				<category><![CDATA[Work]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://penganyamkata.com/?p=538</guid>
		<description><![CDATA[Sebuah epos tentang babak runtuhnya Kerajaan Singhasari serta cikal bakal berdirinya Kerajaan Majapahit Datanglah Seribu Topan Badai Utara! Kudendangkan Selaksa Serat Ksatria Krah-Sema-Dirada-Nagara &#8230;Amuk! Abad ke-13 adalah abad bergolakan. Di mana manusia, pahlawan, dan para raja di berbagai belahan dunia saling bergejolak dalam menggapai dan mempertahankan mimpi-mimpi mereka untuk berkuasa. Adalah Kublai Khan, Kaisar Mongolia [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;"><strong>Sebuah epos tentang babak runtuhnya Kerajaan Singhasari<br />
serta cikal bakal berdirinya Kerajaan Majapahit</strong></p>
<p style="text-align: center;"><a rel="attachment wp-att-640" href="http://penganyamkata.com/2011/12/07/nararya-01/posternararya-b/"><img class="alignnone size-full wp-image-640" title="PosterNararya-b" src="http://penganyamkata.com/wp-content/uploads/2011/12/PosterNararya-b.jpg" alt="" width="300" height="428" /></a></p>
<p style="text-align: center;">Datanglah Seribu Topan Badai Utara!<br />
Kudendangkan Selaksa Serat Ksatria<br />
Krah-Sema-Dirada-Nagara<br />
&#8230;Amuk!</p>
<p style="text-align: center;"><span id="more-538"></span></p>
<p style="text-align: center;"><a rel="attachment wp-att-581" href="http://penganyamkata.com/2011/12/07/nararya-01/singhasari-kingdom-2/"><img class="size-full wp-image-581   aligncenter" title="Singhasari Kingdom" src="http://penganyamkata.com/wp-content/uploads/2011/12/Singhasari-Kingdom1.png" alt="" width="516" height="329" /></a></p>
<p style="text-align: center;">
<p style="text-align: center;">
<p>Abad ke-13 adalah abad bergolakan. Di mana manusia, pahlawan, dan  para raja di berbagai belahan dunia saling bergejolak dalam menggapai  dan mempertahankan mimpi-mimpi mereka untuk berkuasa.</p>
<p>Adalah Kublai Khan, Kaisar Mongolia yang memiliki daerah kekuasan  yang maha luas. Ia menguasai Asia, menyerbu Eropa, hingga semenanjung  Arab. Ia merintis jalur perdagangan dari Asia hingga Eropa.  Negeri-negeri yang ia taklukkan berada di bawah kekuasaannya. Di bawah  sesorahnya, Kerajaan Mongol mencapai zaman keemasannya.</p>
<p>Sementara itu di Nusantara pun berdiri Singhasari. Sebuah kerajaan  besar nan gagah di Pulau Jawa. Namanya tersohor ke mana-mana. Di bawah  Raja Kertanegara, kekuasaan Kerajaan Singhasari mencapai masa-masa  jayanya.</p>
<p>Tetapi bagi Kublai Khan ekspedisi penaklukannya kurang lengkap bila  Mongolia tak mencaplok negeri-negeri kepulauan Asia yang kaya akan  rempah dan hasil alam. Kublai Khan merasa Mongolialah kerajaan  paling besar dan paling kuat di dunia. Maka ia pun ingin Singhasari  mengakui kekuasaan Mongolia dan tunduk di bawah kekaisarannya. Sayangnya  Kublai Khan kelewat percaya diri. Di dunia ini ada satu negeri yang tak  pernah mau dan tak pernah berhasil Mongol taklukan, yaitu: Nusantara!</p>
<div class="wp-caption aligncenter" style="width: 528px"><img src="http://penganyamkata.com/wp-content/uploads/2011/12/Peta-Jalur-Penyerangan-b.jpg" alt="" width="518" height="299" /><p class="wp-caption-text">Peta Jalur Penyerangan</p></div>
<p>Setting cerita &#8220;Nararya&#8221; episode 1 terjadi pada tahun 1289 ketika Raja  Kertanegara melukai Meng Chi, utusan Kaisar Kublai Khan, lantas  terjadinya <em>kraman </em>kerajaan akibat pemberontakan Jayakatwang,  menyerbuan pasukan Mongol, hingga munculnya tokoh Raden Wijaya yang  kelak memproklamasikan berdirinya Kerajaan Majapahit.</p>
<p>Serial &#8220;Nararya&#8221; dibuat dalam bentuk animasi 3D di mana pada babak awal   diproduksi sebanyak 13 episode (episode 1 mulai masuk pra produksi,   November 2011). <em>Script</em> cerita ini ditulis oleh Daniel Mahendra, dan diproduksi oleh Animaraya Studio serta Telegraph.</p>
<div id="attachment_539" class="wp-caption aligncenter" style="width: 468px"><a rel="attachment wp-att-539" href="http://penganyamkata.com/2011/12/07/nararya-01/nararya-b/"><img class="size-full wp-image-539 " title="Nararya-b" src="http://penganyamkata.com/wp-content/uploads/2011/12/Nararya-b.jpg" alt="" width="458" height="351" /></a><p class="wp-caption-text">Sketsa karakter tokoh</p></div>
<p style="text-align: left;">
<p style="text-align: center;">* * *</p>
<p style="text-align: center;">
<p style="text-align: center;">
<p style="text-align: center;">
<p style="text-align: center;">
<p style="text-align: center;">
<p style="text-align: center;">
<p style="text-align: center;">
<p style="text-align: center;">
<p style="text-align: center;">
<p style="text-align: center;">
<p style="text-align: center;">
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://penganyamkata.com/2011/12/07/nararya-01/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Jambul Petualang Nusantara #2</title>
		<link>http://penganyamkata.com/2011/12/07/jambul-petualang-nusantara-%e2%80%93-02/</link>
		<comments>http://penganyamkata.com/2011/12/07/jambul-petualang-nusantara-%e2%80%93-02/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 07 Dec 2011 03:46:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>penganyamkata</dc:creator>
				<category><![CDATA[Work]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://penganyamkata.com/?p=522</guid>
		<description><![CDATA[Script: Daniel Mahendra]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;"><a rel="attachment wp-att-523" href="http://penganyamkata.com/2011/12/07/jambul-petualang-nusantara-%e2%80%93-02/jambul-02/"><img class="size-full wp-image-523   aligncenter" title="Jambul-02" src="http://penganyamkata.com/wp-content/uploads/2011/12/Jambul-02.jpg" alt="" width="478" height="358" /></a></p>
<p style="text-align: center;"><span id="more-522"></span>Script: Daniel Mahendra</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://penganyamkata.com/2011/12/07/jambul-petualang-nusantara-%e2%80%93-02/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Jambul Petualang Nusantara #1</title>
		<link>http://penganyamkata.com/2011/12/07/jambul-petualang-nusantara-01/</link>
		<comments>http://penganyamkata.com/2011/12/07/jambul-petualang-nusantara-01/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 07 Dec 2011 03:13:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>penganyamkata</dc:creator>
				<category><![CDATA[Work]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://penganyamkata.com/?p=505</guid>
		<description><![CDATA[Serial animasi 3D dari, oleh, dan untuk Indonesia. Script: Daniel Mahendra]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;"><a rel="attachment wp-att-506" href="http://penganyamkata.com/2011/12/07/jambul-petualang-nusantara-01/jambul-01-2/"><img class="size-full wp-image-506 aligncenter" title="Jambul-01" src="http://penganyamkata.com/wp-content/uploads/2011/12/Jambul-011.jpg" alt="" width="381" height="540" /></a></p>
<p style="text-align: center;">Serial animasi 3D dari, oleh, dan untuk Indonesia.</p>
<p style="text-align: left;"><span id="more-505"></span></p>
<p style="text-align: center;"><a rel="attachment wp-att-519" href="http://penganyamkata.com/2011/12/07/jambul-petualang-nusantara-01/jambul-01-c/"><img class="alignnone size-full wp-image-519" title="Jambul-01-c" src="http://penganyamkata.com/wp-content/uploads/2011/12/Jambul-01-c.jpg" alt="" width="405" height="304" /></a></p>
<p style="text-align: center;">Script: Daniel Mahendra</p>
<p style="text-align: center;">
<p style="text-align: left;">
<p style="text-align: left;">
<p style="text-align: center;">
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://penganyamkata.com/2011/12/07/jambul-petualang-nusantara-01/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Dear Papa</title>
		<link>http://penganyamkata.com/2011/12/05/dear-papa/</link>
		<comments>http://penganyamkata.com/2011/12/05/dear-papa/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 05 Dec 2011 10:07:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>penganyamkata</dc:creator>
				<category><![CDATA[Review]]></category>
		<category><![CDATA[Work]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://penganyamkata.com/?p=456</guid>
		<description><![CDATA[© dearbooksproject.wordpress.com Cetakan 1, Februari 2011 nulisbuku.com Editor: Lala Purwono Desain Sampul: Dicky Satria Nugraha Tata Letak: Lala Purwono 136 hal. 13 x 19 cm. &#8220;Hidup tidak datang dengan buku panduan &#8211; itulah mengapa kita mempunyai seorang ayah&#8221; (Vijay Batra) Buku ini akan mengajarkan kita banyak hal. Semua kisah nyata yang ditulis oleh anak kepada [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a rel="attachment wp-att-535" href="http://penganyamkata.com/2011/12/05/dear-papa/dear-papa-cover-01-b/"><img class="size-medium wp-image-535 alignleft" title="Dear Papa Cover 01-b" src="http://penganyamkata.com/wp-content/uploads/2011/12/Dear-Papa-Cover-01-b-222x300.jpg" alt="" width="153" height="201" /></a>© dearbooksproject.wordpress.com<br />
Cetakan 1, Februari 2011<br />
nulisbuku.com</p>
<p>Editor: Lala Purwono<br />
Desain Sampul: Dicky Satria Nugraha<br />
Tata Letak: Lala Purwono</p>
<p>136 hal.<br />
13 x 19 cm.</p>
<blockquote><p>&#8220;Hidup tidak datang dengan buku panduan &#8211; itulah mengapa kita mempunyai seorang ayah&#8221; (Vijay Batra)</p></blockquote>
<p>Buku ini akan mengajarkan kita banyak hal. Semua kisah nyata yang ditulis oleh anak kepada ayahnya. Semua perasaan berusaha dicurahkan. Segala situasi yang kaku, perasaan malu, ragu-ragu untuk mengungkapkan perasaan itu patah seketika.</p>
<blockquote><p>&#8220;Meski orang banyak mengatakan bahwa peran ibu lebih penting dari ayah, tapi bagiku peran Papa sama penting dan sama besarnya dalam hidupku. Maka bagiku, surga terletak di telapak kaki ibu dan di pundak ayah.&#8221; (Hardi Vizon)</p></blockquote>
<p>Proyek #dearpapa menghasilkan buku <a href="http://nulisbuku.com/books/view/dearpapa-buku-6" target="_blank">Dear Papa</a> mulai buku 1 sampai buku ke 6. Ini merupakan proyek <em>charity</em> alias tidak ada imbalan apa pun untuk setiap karya yang masuk dan ceritanya terangkum dalam buku-buku yang diterbitkan oleh <a href="www.nulisbuku.com" target="_blank">www.nulisbuku.com</a>. Semua royalti dari hasil penjualan buku-buku ini disumbangkan langsung untuk yayasan sosial.</p>
<p>Kunjungi website <a href="http://www.nulisbuku.com/" target="_blank">www.nulisbuku.com</a>, follow twitternya di @nulisbuku atau bertanya langsung melalui e-mail: admin@nulisbuku.com</p>
<p><span id="more-456"></span></p>
<p>Sumber: <a href="http://dmradio.dharmamulya.or.id/index.php/component/content/article/118-artikel/125-dearpapabuku6-" target="_blank">http://dmradio.dharmamulya.or.id</a></p>
<p><a href="http://dmradio.dharmamulya.or.id/"></a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://penganyamkata.com/2011/12/05/dear-papa/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Epitaph: Memoar Batu Nisan</title>
		<link>http://penganyamkata.com/2011/03/26/epitaph-memoar-batu-nisan/</link>
		<comments>http://penganyamkata.com/2011/03/26/epitaph-memoar-batu-nisan/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 26 Mar 2011 17:18:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>penganyamkata</dc:creator>
				<category><![CDATA[Review]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://penganyamkata.com/?p=426</guid>
		<description><![CDATA[Siapa pernah merasakan kehilangan orang yang dikasihi? Baik itu orang tua, sahabat, saudara, suami/istri, atau pacar. Apa yang dirasakan? Pertanyaan seperti ini pastinya tidak penting untuk ditanyakan. Rasa sedih, kehilangan pasti yang dirasakan. Aku pernah merasakan kehilangan. Kehilangan seorang ibu, yang begitu berarti buatku begitu menyedihkan. Sakit kencing manis yang sudah merenggut beliau dari sisiku. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_560" class="wp-caption alignleft" style="width: 154px"><a rel="attachment wp-att-560" href="http://penganyamkata.com/2011/03/26/epitaph-memoar-batu-nisan/evi-yuniati-b/"><img class="size-full wp-image-560 " title="Evi Yuniati-b" src="http://penganyamkata.com/wp-content/uploads/2011/03/Evi-Yuniati-b.jpg" alt="" width="144" height="136" /></a><p class="wp-caption-text">Evi Yuniati</p></div>
<p style="text-align: left;">Siapa pernah merasakan kehilangan orang yang dikasihi? Baik itu orang tua, sahabat, saudara, suami/istri, atau pacar. Apa yang dirasakan? Pertanyaan seperti ini pastinya tidak penting untuk ditanyakan. Rasa sedih, kehilangan pasti yang dirasakan.</p>
<p>Aku pernah merasakan kehilangan. Kehilangan seorang ibu, yang begitu berarti buatku begitu menyedihkan. Sakit kencing manis yang sudah merenggut beliau dari sisiku. Rasa hancur dan kehilangan itu begitu terasa saat aku diminta untuk melihat posisi beliau saat hendak dimasukkan ke peti mati. Ketika itu aku langsung lemas, menangis meraung raung dan tak kuasa melihat ibu yang begitu ku kasihi saat itu sudah tidak lagi berbaring di ranjang kamarnya.</p>
<p>Itulah gambaran bagaimana kehilangan orang yang kita cintai dan kasihi. Epitaph, adalah sebuah buku yang ditulis oleh Daniel Mahendra (akun twitternya @penganyamkata) untuk melukiskan rasa kehilangan seorang pemuda, Haikal yang ditinggal mati pacarnya, Laras dalam kecelakaan helikopter.</p>
<p><span id="more-426"></span>Walaupun ini cerita fiksi, tapi menggambarkan rasa kehilangan itu adalah sama seperti yang dirasakan kebanyakan orang. Bagaimana sejak jatuhnya helikopter itu sampai berbulan-bulan bahkan 2 tahun baru diketahui jelas dimana letak bangkai helikopter bersama penumpangnya yang sudah tinggal tulang belulang.</p>
<p>Membaca kisahnyapun seakan seperti terbagi apakah ini fiksi atau nyata karena ada catatan-catatan surat kabar yang memuat berita jatuhnya helikopter. Ilustrasi sampul bukunya pun seperti menandakan ada kedukaan, ada memoar di dalam buku itu (gambar jembatan seperti di dalam hutan. Di sisi kiri, kanannya banyak pepohonan dan tanaman-tanaman perdu. Juga warna gambarnya yang hijau suram).</p>
<p>Dialog Haikal dengan bapak penjual buah, menarik sekali buatku. Bapak penjual buah itu berbicara tentang arti menunggu. &#8220;banyak orang bosan melewati penungguan itu. Bagiku di situlah seninya hidup. Ada seni tersendiri dalam penungguan itu. Ada harapan yang terus menyala. Itu terkadang yang tak semua orang mau memahami, bahwa menunggu adalah suatu kenikmatan tersendiri. Suatu seni tersendiri..&#8221; menarik bukan?</p>
<p>Buat aku, inti sari buku ini adalah belajar ikhlas kehilangan orang yang kita cintai dan biarkan memoar tentang orang itu tetap terpatri di hati dan juga di batu nisan mereka.</p>
<p>________________</p>
<p>* Tinggal di Bekasi, Jawa Barat.</p>
<p>Tulisan ini dimuat di sini tak lain sekadar usaha pendokumentasian. Versi asli dari tulisan ini dapat dilihat di <a href="http://miscl-vienavista.blogspot.com/2011/03/epitaph-memoar-batu-nisan_26.html" target="_blank">miscl-vienavista.blogspot.com</a> [Maret 2011].</p>
<div id="_mcePaste" style="position: absolute; left: -10000px; top: 740px; width: 1px; height: 1px; overflow: hidden;"><a href="http://miscl-vienavista.blogspot.com/">http://miscl-vienavista.blogspot.com</a></div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://penganyamkata.com/2011/03/26/epitaph-memoar-batu-nisan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Fiksionalisasi Fakta Sibayak</title>
		<link>http://penganyamkata.com/2010/12/01/fiksionalisasi-fakta-sibayak/</link>
		<comments>http://penganyamkata.com/2010/12/01/fiksionalisasi-fakta-sibayak/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 01 Dec 2010 03:39:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>penganyamkata</dc:creator>
				<category><![CDATA[Review]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://penganyamkata.com/?p=360</guid>
		<description><![CDATA[Suara Karya, Sabtu, 27 Nopember 2010 TIDAK jelas apa perbedan fiksi dengan fakta. Bila selama ini kita diajari dengan definisi baku yang mengatakan fikta adalah kebenaran riil dan karenanya disampaikan dalam berita atau karya ilmiah dengan memakai metoda penelitan serta validisasi data secara eksaks statistika. Sedangkan fiksi itu hanya khayalan penulis, karenanya hanya alat mengumbar [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_361" class="wp-caption alignleft" style="width: 154px"><a rel="attachment wp-att-361" href="http://penganyamkata.com/2010/12/01/fiksionalisasi-fakta-sibayak/benisetia/"><img class="size-full wp-image-361 " title="BeniSetia" src="http://penganyamkata.com/wp-content/uploads/2010/12/BeniSetia.jpg" alt="" width="144" height="155" /></a><p class="wp-caption-text">Beni Setia</p></div>
<p style="text-align: left;"><a href="http://www.suarakarya-online.com/news.html?category_name=Budaya" target="_blank">Suara Karya, Sabtu, 27 Nopember 2010</a></p>
<p>TIDAK jelas apa perbedan fiksi dengan fakta. Bila selama ini kita diajari dengan definisi baku yang mengatakan fikta adalah kebenaran riil dan karenanya disampaikan dalam berita atau karya ilmiah dengan memakai metoda penelitan serta validisasi data secara eksaks statistika. Sedangkan fiksi itu hanya khayalan penulis, karenanya hanya alat mengumbar lamunan serta mencari kesenangan berfantasi. Tetapi apa fungsi fiksi hanya itu?</p>
<p>Sementara, dalam kenyataannya, fakta tak pernah sukses menyatakan kebenaran yang diamati secara metodik, divalidisasi secara eksaks dan lalu diungkapkan secara obyektif karena kenyataan itu sangat menohok atau bahasa dan cara ungkapnya terlalu akademik-sehingga Seno Gumira Ajidarma berbicara tentang fiksi serta sastra tampil setelah fakta tak berbicara. Dengan kata lain, fiksi atau fiksionalisasi fakta adalah cara agar fakta diterima dan dihayati secara empatik, dan karenanya kebenaran tidak hanya diukur kesahihan faktanya tapi dirasakan nuansanya dengan empati.</p>
<p>Di titik ini, karenanya, saya tiba pada anggapan sebuah kebenaran menjadi yang bercahaya ketika diletakkan dalam pukau fiksionalisasi hasil kepekaan kreatif seorang pengarang yang bermain di antara postulat fakta-fakta. Kebenaran jadi mengharukan ketika fiksi menjadi nampan dan kendaraan untuk mengapungkan fakta. Dan itu yang dilakukan Daniel Mahendra pada novel Epitaph Kakilangit Kencana, Jakarta, (2009), dengan basis fakta tragedi musibah pesawat militer yang disewa sipil buat pemotretan udara, Sibayak 22/8/1994. Seperti yang dilakukan Boris Pasternak, dengan novel Dr Chivago, yang mengeksploitasi gebalau sosial di awal Revolusi Rusia, atau Aleksadr I Solzhenitsyn, dengan novel Gulag Archipelago, yang mengungkap borok komunis cq nasib tahanan politik Rusia di Siberia, dan Bumi Manusia Pram yang menyorot sosok bersejarah di masa perjuangan awal Indonesia.</p>
<p><span id="more-360"></span></p>
<p style="text-align: center;">* * *</p>
<p>MEMAHAMI novel Daniel Mahendra harus dimulai dengan membaca apettite kisah dalam ujud cerpen berjudul &#8220;Epitaph&#8221; yang ada dalam buku kumpulan cerpen Selamat Datang di Pengadilan (2001). Cerpen itu berkisah tentang pacar lelaki yang mengunjungi keluarga yang anaknya hilang dalam kecelakaan pesawat terbang, dan hanya dinyatakan hilang tanpa pernah benar-benar diakui telah meninggal di satu sisi dan (di sisi lainnya) tanpa pernah benar-benar diakui ada dalam pesawat yang hilang itu meski sedang ikut proyek yang melibatkan pesawat yang hilang itu.</p>
<p>Kebimbangan Ibu yang kehilangan, nyala harapan di tengah ketidakpastian akan nasib si anak yang menggelisahkan si Ibu, dan institusi pemilik pesawat yang disewakan oknum secara menggelap yang tak mau mengakui ada transaksi legal penyewaan pesawat yang jadi laku mengingkari adanya penumpang dalam pesawat naas itu menjadi fakta peniadaan seorang manusia secara mencolok.</p>
<p>Itu kebenaran, bahkan ketidakadilan institusional yang diinpentarisasi Daniel Mahendra, yang kemudian dipecahnya menjadi beberapa fakta riil. Lantas fakta itu dipecah menjadi beberapa postulat fakta-fakta, di mana sayap fiksi dimainkan untuk mengapungkan kebenaran, untuk mengapungkan nuansa emosional yang dirasakan keluarga ketika si korban dianonimkan atau dieliminasi demi nama dan kehormatan institusi. Karena itu tokoh-tokoh dalam Epitaph hanya alat dari si pengarang untuk mengekspresikan rasa kehilangan dan resah gelisah yang dalam akan nasib anggota keluarga yang tercangkul di dalam pesawat naas itu tapi tak pernah diakui ada dalam pesawat itu. Karenanya timbul pertanyaan, kenapa harus diingkari?</p>
<p>Apa itu ada kaitannya dengan praktek oknum yang menyewakan pesawat milik Angkatan Darat itu? Hingga pesawat yang biasanya hanya terbang untuk latihan rutin itu ada di dalam kriteria dikaryakan secara personal untuk keuntungan pribadi? Siapa si pilot itu? Atau siapa oknum instansi yang mengkaryakan pesawat itu, yang identitas serta kariernya harus diamankan sehingga semua manifes penerbangan disterilkan jadi cuma penerbangan latihan?</p>
<p>Dan demi sterilisasi manifes itu pula dilakukan evakuasi dengan syarat-mengutip Epitah: jangan ada pers yang meliput pemberangkatan tidak boleh ada penyambutan di bandara atau upacara di kampus kerangka tidak dibawa dengan peti dibungkus dan dimasukkan ke dalam tas.</p>
<p>Sebuah eliminasi total,bahkan atas harkat kemanusiaan di momen paling akhir dari kebereadaannya, yang melukai persaan, karenanya semua kesedihan itu diungkap dengan empatik di atas nampan fiksionalisasi kreatif oleh Daniel Mahendra. Satu laku fiksionalisasi sejarah yang memaksa kita membacanya secara lain.</p>
<p style="text-align: center;">* * *</p>
<p>ADA tiga tokoh utama dalam novel itu, Langi sebagai novelis yang teman kecil Haikal, Haikal sebagai novelis remaja yang produktif dan berpacaran dengan Laras, dan Laras pacar Haikal yang bercita-cita jadi cineast dengan belajar di IKJ. Tapi ada kerancuan sesaat setelah Laras mati, melayang sebagai si roh yang mengembara dan meninggalkan cerita itu di dalam catatan yang untuk dalam reruntuk pesawat, yang kemudian diketemukan oleh Haikal, yang selama ini menjadi novelis. Setidaknya saat catatan roh Laras ditambah catatan Haikal sebagai novelis menjadi bahan novel ketika diserahkan kepada Langi agar ia menjadi novelis. Ini sebuah rangkaian yang bermaknakan: bila Laras jadi novelis, Haikal dan Langi tidak jadi novelis, sekaligus kalau Haikal jadi novelis Laras tak jadi novelis dan Langi hanya jadi pembaca kritis-baca editor. Dan di ujung Laras dan Haikal tak jadi dan tak mau jadi novelis karena kini Langi yang harus jadi novelis.</p>
<p>Apa makna semua itu? Bagi saya itu sederhana sekali: ketiga tokoh itu bukanlah tokoh yang diciptakan pengarang untuk mengongkritkan cerita, ketiga tokoh itu hanya jalan yang membawa pengarang dan semua pembaca yang dipandunya di sebuah arah ke sejumlah fakta dengan perjalanan fiksionalisasi yang empatik. Dengan Laras kita akan dibawa ke mana, dengan Haikal kita akan dibawa ke mana lagi, dan kedua jalan itu berkelindan membangun realitas fiksi yang menggelayut di antara postulat fakta-fakta. Dan semua realitas fiksional itu ditertibkan serta disusun ulang oleh pembacaan Langi yang pada dasarnya hanya seorang editor kritis. Dengan kata lain, ketiga orang itu adalah pengarang, dan ketiganya diciptakan agar kita bersentuhan dengan banyak fakta dengan kendaraan fiksi.</p>
<p>Itu tehnik bercerita yang khas Daniel Mahendra. Pola strategi mendirikan mercu suar (postulat) fakta yang tak terbantahkan dengan nampan dan kendaraan fiksi yang membuat kita merasakan semuanya secara empatik, bersimpati, dan ikut bersedih hati. Masgul atas kekeraskepalaan oknum institusi yang memanpaatkan tradisi dan displin institusi untuk menyelamatkan karier tanpa menimbang persaan dan kesedihan orang lain. Mungkin juga marah dalam tanpa berdaya, energi yang tampaknya akan dipakai Daniel Mahendra untuk menggenapkan Epitaph dengan novel lainnya. Mungkin.</p>
<p style="text-align: center;">* * *</p>
<p>________________</p>
<p>Lahir di Bandung, 1954. Menulis cerpen, puisi, serta esai sosial-budaya baik dalam bahasa Indonesia maupun bahasa Sunda. Kini ia tinggal di Caruban, Madiun, Jawa Timur.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://penganyamkata.com/2010/12/01/fiksionalisasi-fakta-sibayak/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

